Usroh Tulang Punggung Tarbiyah Islamiyah

Oleh: Wanda Yulianto

“Islam sangat menekankan agar para pemeluknya membentuk kumpulan-kumpulan dengan tujuan mengarahkan mereka untuk mencapai tingkat keteladanan, mengokohkan persatuan dan mengangkat konsep persaudaraan di antara mereka dari tataran kata-kata dan teori menuju kerja dan operasional yang kongkrit. Oleh karenanya bersungguh-sungguhlah engkau wahai saudaraku untuk menjadi batu bata yang baik dalam bangunan Islam ini”. Asyahid Hasan Al banna (Majmu’atur Rasail)

Tak dapat dipungkiri proses dakwah Tarbiyah Islamiyah, membutuhkan perangkat yang komprehensif. Tanpa perangkat yang jelas sangatlah sulit tujuan tarbiyah bisa tercapai. Untuk itu Ikhwanul Muslimin menempatkan perangkat pertama dalam mentarbiyah anggota-anggotanya adalah Usroh.

Usroh (Keluarga) disini adalah sebuah wadah yang menampung kempulan orang-orang yang terikat oleh kepentingan yang sama, yakni: bekerja, mentarbiyah, dan mempersiapkan kekuatan untuk islam.

Tujuan usroh diantaranya adalah untuk membentuk kepribadian Islami para anggotanya dan untuk mengukuhkan makna ukhuwah yang sesungguhnya dalan diri anggota.

Agenda dalam usroh biasanya, evaluasi umum kondisi dan aktivitas anggota, Mengkaji permasalahan dakwah muktahir, Membaca risalah dan arahan pemimpin usroh, Berdiskusi dengan semangat nasihat menasihati dan etika penghormatan yang tinggi.

Dilarang berdebat negative dan provokatif, Mengkaji buku-buku yang berkualitas, Merealisasi makna ukhuwah dalam pergaulan praktis seperti: Men-jenguk saudara yang sakit, mencari informasi tentang saudara absen, dan memberi perhatian kepada orang yang memutuskan hubungan. (Syarah Rasmul Bayan, wasailut Tarbiyah, Al usroh)

Menarik bila kita mengamati bagaimana sistem tarbiyah awal yang terekam dalam berbagai kitab klasik. Bagaimana awal mula Nabi SAW memulai mengajarkan agama ini sampai terbentuknya konstruk keilmuan Islam seperti yang kita kenal sekarang.

Terekam pula bagaimana awal mula halaqoh dakwah ini dimulai dari keluarga Beliau SAW. Lalu Abu Bakr. Kemudian berturut-turut Abu Bakr mengajak teman-teman dekatnya untuk bergabung seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, az Zubair bin al Awwam, Talha dan Sa’d bin Abi Waqqas

Kemudian dari hasil Tarbiyah awal ini muncullah Ibn Mas’ud yg kemudian dipercaya oleh Nabi SAW sebagai orang yang pertama dari kalangan sahabat yg mengajarkan Qur’an di Mekah, disusul kemudian Khabbab membentuk halaqoh baru mengajarkan Qur’an pada Fatima (saudara perempuan Umar bin Khattab) dan suaminya, Sa’id bin Zaid (ibid, hal. 181-184).Kemudian Mus’ab bin Umair yang oleh Nabi dikirim ke Madinah sebagai pengajar Qur’an disana (Ibn Hisham, Sira jilid 1-2, hlm. 434). Semangat Tarbiyah ini semakin hari semakin membesar, hingga sesampainya di Madinah kemudian Nabi SAW mendirikan Suffa di kompleks Masjid Nabawi.

Ada yang perlu digaris bawahi disini. Bahwa ada satu ciri khas dalam sistem pengajaran Nabi SAW, dan ciri khas inilah yang kemudian menjadi pondasi semua Keilmuan Islam. Ciri khas pengajaran Nabi ini sangatlah berkaitan dengan Otentitas dan Otoritas dalam ajaran Beliau SAW. Ciri khas ini lahir dari Tradisi Kesaksian. Hal ini telah menjadi kebiasaaan para Sahabat dalam mentransmisi ajaran dan sunnah Beliau SAW. Sebagian dari mereka membuat kesepakatan menghadiri majelis (Halaqoh) Rasulullah secara bergiliran, memberi tahu apa yang mereka dengar dan saksikan (lihat Shahih Al Bukhori, Bab. At Tanawub fi al ‘Ilm). Kemudian jika sahabat itu mendapat informasi dari tangan kedua, Ia akan menceritakan pada orang selanjutnya siapa sumber aslinya mencakup semua cerita yang terjadi. Dari sinilah lahir sistem Isnad.

Tradisi Isnad ini kemudian telah melahirkan sistem metode pengajaran antara lain:

A. Samaa’, cara ini seorang guru membaca di depan muridnya, yang mencakup cabang bentuk berikut ini: bacaan lisan (hafalan), bacaan teks, tanya jawab dan pendiktean.

B. ‘Ard, dalam sistem ini seorang murid membaca text didepan guru

C. Munaawalah. Menyerahkan teks pada seorang termasuk memberi izin menyampaikan isi riwayah tanpa melalui cara baca.

D. Kitaabah. Suatu bentuk korespondensi:guru mengirim hadits dalam bentuk tertulis pada ilmuan lain.

E. Wasiyyah. Mengamanahkan seorang dengan buku hadits, kemudian yang diberi amanah dapat disampaikan pd pihak lain atas wewenang pemilik aslinya.

F. Ijaazah. Meriwayatkan hadits atau Kitab atas wewenang ilmuan yang memberi ijin khusus yang diutarakan untuk tujuan ini tanpa membacakan buku itu.

G. I’laam. Memberi tahu seorang mengenai kitab tertentu dan isi kandungannya.

H. Wija’adah cara ini menyangkut penemuan naskah tanpa membacanya di depan pengarangnya atau mendapatkan izin untuk meriwayatkannya.

Ketika berbicara usroh, maka akan didapati manhaj (system) yang utuh, Halaqoh keilmuan, (Liqoat) pertemuan keimanan, (Mentoring) keteladanan Murabbi, Talaqi evaluasi dan tentunya Ukhuwah Islamiyah.

Murabbi yang arif adalah pewaris Nabi atau dalam istilah Qur’an disebut al waliyyul mursyid. Sedangkan dalam istilah kita biasa disebut Na’ib. oleh karena itu, sesama na’ib harus senantiasa saling memberi, berbagai bekal untuk menjalankan fungsi ketarbiyahan dan ketakwiniyahan. Jika bukan na’ib yang bertanggung jawab langsung dalam proses tarbiyah, maka naqib (pemimpin kelompok dalam jama’ah) dapat menggantikan perannya. Jika inipun (naqib) tidak dapat juga, maka menjadi tugas al-akh mujahid yang lain. Yang penting, Na’ib harus senantiasa melakukan kontak, agar na’ib tetap mendapatkan berbagai bekal keilmuan dan ketarbiyahan supaya senantiasa memiliki kepekaan dalam menunaikan tugas-tugasnya. (Sa’id Hawa, Membina Angkatan mujahid)

“Oleh karenanya bersungguh-sungguhlah engkau wahai saudaraku untuk menjadi batu bata yang baik dalam bangunan Islam ini”

Bersungguh-sungguhlah, wahai para murabbi mentarbiyah, memimpin usroh, merapikan barisan…!!! Jadikan faham dan Ikhlas modal amalmu!!!

“Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia, tidak mengharap harta benda atau imbalan yang lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih. Hal yang kami harapkan hanyalah pahala dari Allah, Dzat yang telah menciptakan kami.” (Asyahid Hasan Al banna, Majmu’atur Rasail, bab “Dakwah Kami”)

Allahu’alam bishowab

http://wanda-yulianto.blogspot.com/2009/05/usroh-tulang-punggung-tarbiyah.html

Leave a Reply